Kongres Bahasa Indonesia I

KONGRES BAHASA INDONESIA I, SOLO 25—28 JUNI 1938

Kongres I diselenggarakan sebelum kemerdekaan atas prakarsa perorangan, jadi spontanitas sangat menandai suasana kongres tersebut. Dalam Kongres Pemuda 1928 sudah disepakati agar bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan. Berdasarkan tekad itu berusahalah orang untuk menggunakan bahasa Indonesia dalam segala bidang kehidupan, misalnya dalam pers, agama, dan lain-lain. Kemajuan bahasa perhubungan tidak sebanding dengan usaha mengasuh bahasa itu. Adalah kesan umum orang waktu itu bahwa bahasa Indonesia cukup kacau. Oleh sebab itulah diselenggarakan Kongres ini dengan tujuan untuk mencari pegangan bagi semua pemakai bahasa, mengatur bahasa, dan mengusahakan agar bahasa Indonesia tersebar luas.

Menurut Mr. Soemanang dalam suratnya kepada redaksi Majalah Pembinaan Bahasa Indonesia pada tanggal 12 Oktober 1983, pencetus Kongres Bahasa Indonesia ialah Raden Mas Soedardjo Tjokrosisworo, wartawan harian Soeara Oemoem Surabaya, yang pada waktu itu rajin sekali menciptakan istilah-istilah baru, dan sangat tidak puas dengan pemakaian bahasa dalam surat-surat kabar Cina. Dalam suatu obrolan Soedardjo Tjokrosisworo menanyakan kepada Soemanang bagaimana kalau diadakan Kongres Bahasa Indonesia. Soedardjo sanggup menggerakkan pengusaha-pengusaha dan tokoh-tokoh di Solo, dan Soemanang kemudian menyanggupi untuk menghubungi tokoh-tokoh dan kaum terpelajar di Jakarta. Mereka berdua berhasil meyakinkan para penulis yang tergabung dalam Poedjangga Baroe serta para jurnalis, guru, dan peminat-peminat lain. Jadi, pemrakarsa Kongres ini bukannya ahli bahasa profesional, melainkan wartawan pencinta bahasa Indonesia. Kedua orang itu kemudian menyusun suatu “Pengoeroes Komite” di Jakarta sebagai berikut:

Ketua Kehormatan Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat
Ketua Dr. Poerbatjaraka
Wakil Ketua Mr. Amir Sjarifoeddin
Penulis Soemanang

Armijn Pane

Katja Soengkana

Bendahari Soegiarti, Mr.

Nj. Santoso-Maria Ulfah

Di Jakarta dibentuk Panitia Penerimaan yang dipimpin oleh Soedardjo Tjokrosisworo. Acara yang mereka susun adalah sebagai berikut:

Sabtu 25 Juni pukul 8 sampai 11 malam:

  1. Penyerahan kongres oleh ketua Komite Penerimaan kepada Pengurus Kongres.
  2. Pembukaan dari ketua kongres Dr. Poerbatjaraka.
  3. Menerima ucapan selamat.

Minggu 26 Juni mulai pukul 9 pagi:

Rapat terbuka yang akan berbicara:

Sanoesi Pane Sejarah Bahasa Indonesia
Ki Hajar Dewantara Bahasa Indonesia di dalam perguruan
H.B. Perdi (Hoofdbestuur Persatoean Djurnalis Indonesia) Bahasa Indonesia di dalam persuratkabaran
Mr. Amir Sjarifoeddin Menyesuaikan kata dan paham asing kepada bahasa Indonesia
Mr. Muh Yamin Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa kebudayaan Indonesia

Minggu 26 Juni pada malam harinya:

Rapat tertutup buat memperdalam tentang soal-soal yang dikemukakan rapat terbuka, serta untuk menarik kesimpulan.

Senin 27 Juni mulai pukul 9 pagi:

Rapat terbuka yang akan berbicara:

Soekardjo Wirjopranoto Bahasa Indonesia di dalam perwakilan
St. Takdir Alisjahbana Pembaharuan bahasa dan usaha mengaturnya
K. St. Pamoentjak Tentang ejaan bahasa Indonesia
Sanoesi Pane Tentang Instituut Bahasa Indonesia
M. Tabrani Mencepatkan penyebaran bahasa Indonesia

Selama 28 Juni siang dan malamnya disediakan untuk rapat tertutup.

Pada hari Sabtu 25 Juni 1938 pukul 20.00 di Societeit Habiprodjo dibukalah Kongres ini oleh Ketua Komite Dr. Poerbatjaraka. Lebih kurang 500 orang hadir dalam malam pembukaan ini, termasuk di antaranya wakil-wakil dari Sultan Yogyakarta, Sunan Solo, Paku Alam, Mangku Negara, Pers Indonesia maupun Tionghoa, dan wakil dari Java Instituut.

Sambutan tentang kongres ini tampaknya sangat besar, bukan hanya berupa pemberitaan-pemberitaan di surat-surat kabar, melainkan juga membanjirnya surat dan telegram dari segala penjuru tanah air.

Orang-orang yang sekarang kita kenal sebagai tokoh pergerakan hadir di kongres ini, karena kelihatan bahwa masalah bahasa sejak awal bukan hanya dianggap sebagai masalah pengajaran di sekolah saja melainkan juga masalah nasional.

Komentar mengenai kongres ini sungguh menarik untuk dibaca. Ada yang menganggap bahwa pembahasan dalam kongres ini sangat orisinal, misalnya prasaran Takdir Alisjahbana untuk mengatur bahasa secara lebih baik dengan menyusun tata bahasa Indonesia baru. Uraian Mr. Muh. Yamin dan Moh. Tabrani mendapat sambutan yang hangat karena kedua orang itu sangat pandai berpidato.

Para hadirin juga menghargai Soemanang yang sebagai pengganti ketua memimpin rapat dan sebagai sekretaris sebelum kongres dimulai “… soedah boleh dikatakan tidak tidoer-tidoer lagi menjelesaikan segala sesoeatoenja, dan di tengah0tengah berkongres bahasa Indonesia, tiap-tiap habis rapat kongres, haroes poela mengoenjoengi rapat-rapat Perdi, membitjarakan perkara-perkara jang penting-penting dan soelit-soelit.” (Perdi: Persatuan Djurnalis Indonesia).

Tidak semua pihak di Indonesia menyambut baik kongres ini. Surat-surat kabar Belanda misalnya sangat skeptis tentang masa depan bahasa Indonesia. Ada pula yang menuduh bahwa kongres itu tidak ilmiah, padahal para pendukung kongres, yaitu Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat dan Dr. Poerbatjaraka, adalah sarjana-sarjana Indonesia yang keahliannya telah diakui oleh dunia internasional pada waktu itu.

Salah satu hasil nyata ialah bahwa setelah selesai kongres ini fraksi nasional dalam Volksraad yang dipimpin oleh M. Hoesni Thamrin memutuskan untuk memakai bahasa Indonesia dalam pandangan umum dewan tersebut –suatu hal yang menimbulkan reaksi negatif dari penjajah.

Surat kabar Kebangoenan yang dipimpin oleh Sanoesi Pane dalam terbitannya tanggal 22 Juni 1938 menyatakan bahwa penyelenggaraan Kongres Bahasa Indonesia menandai bahwa “… Bahasa Indonesia soedah sadar akan persatoeannja, boekan sadja dalam artian politik, akan tetapi dalam artian keboedajaan jang seloeas-loeasnja.” Pembahasan-pembahasan dalam kongres ini dipandang dari perkembangan sekarang ini, sangat orisinal dan tetap aktual, seperti pengindonesiaan kata asing, penyusunan tata bahasa, pembaruan ejaan, pemakaian bahasa dalam pers, pemakaian bahasa dalam undang-undang. Banyak gagasan yang sekarang diwujudkan berasal dari pembahasan dan keputusan kongres tersebut, seperti pendirian “Instituut Bahasa Indonesia” (bandingkan dengan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa) dan “perguruan tinggi kesusastraan” (bandingkan dengan fakultas-fakultas sastra), walaupun dalam pendirian badan-badan tersebut tidak pernah saran-saran dari Kongres I tersebut secara eksplisit disebutkan.

Marilah kita simak prasaran-prasaran dalam kongres itu serta putusannya.

Sanoesi Pane:

Sejarah Bahasa Indonesia

I Pembedaan bahasa Melayu Tinggi dan bahasa Melayu Rendah serta bahasa Melayu Riau dan bahasa Melayu Pasar tidak sesuai dengan keadaan bahasa Melayu sebenarnya.
II Yang baik ialah pembedaan bahasa Melayu daerah, bahasa Melayu kesusastraan, dan bahasa Melayu perhubungan. Perhubungan antara ketiganya belum terang benar.
III Di mana timbulnya dan bagaimana tumbuhnya “bahasa Melayu” belum kita ketahui betul pada waktu ini.
IV Sebelum VOC datang ke sini bahasa Melayu perhubungan sudah berkembang ke mana-mana di Indonesia ini. Pada zaman itu pun bahasa itu sudah bersifat bahasa Indonesia.
V Kebudayaan ialah wujud sukma manusia dalam keadaan.
VI Bahasa Melayu perhubungan itu bisa disebut bahasa kebudayaan sementara.
VII Karena pengaruh-pengaruh Barat dan karena keinginan akan masyarakat baru maka di Indonesia terjadi perubahan bentuk masyarakat, pandangan hidup, dan semangat. Orang dengan sadar menumbuhkan bahasa Indonesia dalam lapangan yang sudah disediakan oleh bahasa Melayu perhubungan. Bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu perhubungan, yang diperkaya dengan zat-zat dari Melayu kesusastraan, bahasa Jawa, bahasa Belanda, dan dengan lebih kurang bahasa Austronesia yang lain-lain, sedang perubahan saraf banyak terjadi dan begitu pula perubahan tinggi bunyi dan tekanan.
VIII Bahasa Indonesia sudah jadi bahasa kebudayaan dan akan tumbuh dengan kebudayaan Indonesia.

Ki Hajar Dewantara:

Bahasa Indonesia di dalam perguruan

I Kepulauan Indonesia yang kini masih bergelar “tanah” pada kelaknya akan menjadi “negeri” Indonesia; demikianlah akan datang waktunya “rakyat Indonesia itu akan berdiri sebagai bangsa Indonesia.” (Kemungkinan atas Persatuan Indonesia itu berdasarkan pada adanya pertalian adab serta pengalaman bersama antara bagian-bagian dari tanah dan rakyat Indonesia pada zaman dahulu kala, lagi pula adanya semangat bersatu dari rakyatnya sekarang).
II Sungguhpun rakyat Indonesia itu hingga kini terbagi menjadi beberapa daerah bahasa, akan tetapi mulai dahulu kala hingga sekarang terbuktilah, seluruhnya rakyat yang saling berhubungan, sukalah mempergunakan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. (Meskipun bahasa Jawa dalam arti “kebudayaan” ada lebih berharga daripada bahasa Melayu, akan tetapi sebagai bahasa perantara buat seluruh Indonesia tida dapat mengalahkan bahasa Indonesia).
III Mulai sebagai “bahasa perantaraan”, maka lambat laun karena adanya semangat memajukan (cultiveren) bahasa Indonesia itu akan menjadi bahasa kebudayaan (cultuurtaal) dan bangsa yang memakainya (meskipun berkedudukan di luarnya daerah Melayu) yakni dari bangsa Indonesia kelaknya (lihat gerakan bahasa yang telah termuat di dalam pers, baik hariwarta maupun majalah-majalah berkala, kitab-kitab, dan perumunan lainnya. Ingatilah bahasa Indonesia di dalam pergerakan rakyat pada zaman sekarang).
IV Walaupun pergerakan bahasa itu amat pentingnya untuk kemajuan bahasa Indonesia akan tetapi untuk menyebarkannya di seluruh daerah dan sekitarnya lapisan rakyat kita perlu sekali bahasa Indonesia itu dimasukkan ke dalam segala pergerakan dari bangsa kita sebagai pelajaran yang diwajibkan (imperatief leervak).
V Masuknya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang diwajibkan tidak berarti mendesak bahasa daerah yang masih berhak dan atau patut dipakai berhubung dengan kepentingan kebudayaan atau masyarakat (serta kepentingan paedagogisch!), akan tetapi berarti menambah keluasan alam dari anak-anak kita, dari “alam daerah bahasanya” masing-masing sampai ke “alam kebangsaaan Indonesia”. (Mengabaikan bahasa daerah berarti merugikan laku kecerdasan jiwa anak-anak teristimewa jika bahasa daerah itu bernilai dalam arti kultureel, sebaliknya mengabaikan bahasa persatuan juga akan merugikan kanak-kanak kelaknya teristimewa dalam arti kemasyarakatan).
VI Perguruan-perguruan yang terletak di daerah yang masih mempunyai bahasa sendiri yang oleh rakyatnya masih dipelihara sebagai “bahasa kebudayaan” atau “bahasa masyarakat” wajiblah paling sedikit memberi pengajaran bahasa Indonesia dalam dua tahun lamanya; buat daerah lainnya bahasa Indonesia harus menjadi bahasa perantaraannya (voertaal). Dalam hal ini ada banyak keadaan yang terletak di tengah-tengah tuschenschakeeringen hingga tentang memakainya bahasa Indonesia selaku voertaal atau memberikannya dalam dua tahun itu seringkali sukar untuk menetapkannya. Juga kedudukan bahasa Jawa yang besar dan luas sekali daerahnya dalam arti litterair dan maatschapelijk adalah soal uang khusus dan patut minta perhatian spesial.
VII Yang dinamakan “bahasa Indonesia” yaitu bahasa Melayu yang sungguhpun pokoknya berasal dari “Melayu Riau” akan tetapi yang sudah ditambah, diubah, atau dikurangi menurut keperluan zaman dan alam baharu, hingga bahasa itu lalu mudah dipakai oleh rakyat di seluruh Indonesia; pembaharuan bahasa Melayu hingga kini menjadi bahasa Indonesia itu harus dilakukan oleh kaum ahli yang beralam baharu, ialah alam kebangsaan Indonesia.
VIII Untuk mendapatkan ketertiban tentang kemajuan bahasa Indonesia itu, maka haruslah sekalian perguruan bangsa Indonesia—begitupun juga kaum wartawan takluk pada segala putusan tentang sifat dan bentuk bahasa baharu itu yang telah diambil oleh kongres bahasa yang seharusnya pada tiap-tiap tahun diadakan oleh kaum ahli bahasa, kaum wartawan, dan kaum perguruan bersama-sama.
IX Untuk keperluan perguruan, perlulah pula diadakannya kitab-kitab oleh kaum ahli, yang disandarkan pada perubahan-perubahan sifat dan bentuk bahasa baru itu, agar sekalian guru dan sekalian perguruan bangsa kita tiada berbeda-beda dalam menyusunnya pengajaran bahasa Indonesia itu.
X Tentang sifat dan bentuk bahasa baru itu haruslah pada perguruan rendah memakai ukuran dan timbangan Indonesia, sedangkan buat perguruan menengah haruslah ada hubungan dengan sifat dan bentuk bahada Melayu yang dipakai di luar negeri (Malaya, Philipina, Jepun, Tiongkok, Eropa) oleh orang-orang dari bangsa kita yang merantau ke luar negeri itu yang berhubung dengan keperluan internasional boleh jadi merasa perlu mengadakan ejaan sendiri atau perubahan lainnya. Ingatlah akan adanya perguruan bahasa Indonesia di luar negeri mungkinnya bahasa kita Indonesia itu akan tersebar di luar negeri kita sendiri.

Djamaloedin (Adi Negoro):

Bahasa Indonesia di dalam persuratkabaran

1. Kongres Bahasa Indonesia yang pertama ini perlu sekali untuk:

  1. Memfiksasi segala perubahan dalam bahasa Indonesia yang telah dibiasakan orang menganggapnya sebagai kemajuan bahasa persatuan,
  2. Menetapkan batas-batas bahasa Indonesia,
  3. Menentukan garis-garis kemajuannya yang kiranya boleh menambah kekayaan bahasa persatuan itu.
2. Bahasa Indonesia di dalam achbar belum lagi memuaskan dalam segal hal.
3. Bahasa Indonesia dalam surat kabar ialah bahasa yang mempunyai “tanah” yang seseubur-suburnya untuk menerima bibit baru dari zaman perubahan.
4. Kewajiban wartawan ialah menurut evolusi bahasa Indonesia dan mengencangkan jalan evolusi itu.
5. Jalan-jalan baru yang sekarang telah dirambah orang ada yang buntu dan ada yang mempunyai banyak harapan akan diterima oleh orang banyak.
6. Selain daripada jalan yang telah dirambah itu, ada lagi jalan yang kiranya dapat menimbulkan pengharapan yang luas (seperti membentuk perkataan baru yang tergabung).
7. Yang maha penting bagi pers bukan keindahan bahasa melainkan kesehatan kehidupan surat kabar.
8. Koran harus dirasai oleh public sebagai satu keperluan hidup.
9. Memperbaiki bahasa dalam achbar berarti memperbaiki kehidupan surat kabar.
10. Kemajuan bahasa Indonesia bergantung kepada kecerdasan tiap-tiap wartawan dan keluasan (kelapangan) pikirannya serta kemajuan pada jurnalistik Indonesia.

Mr. Amir Sjarifoeddin:

Menyesuaikan kata dan paham asing kepada bahasa Indonesia

1. Segala bahasa yang berevolusi pada suatu ketika akan menghadapi soal menyesuaikan kata dan paham asing ke bahasa sendiri.
2. Bahasa Indonesia pada saat ini menghadapi soal itu dan terutama pada saat ini bahasa Indonesia mengahadapi bahasa pengetahuan.
3. Dalam tiap-tiap bahasa, bahasa pengetahuan sebenarnya satu bahasa terasing dari bahasa umum dan merupakan suatu bahasa golongan.
4. Hal ini terang sekali dalam bahasa pengetahuan exact (dan juga dalam bahasa pengetahuan yang tidak exact seperti bahasa filosofi) di negeri Barat.
5. Sebab pengetahuan di negeri Barat kebanyakan terikat dalam bahasa Graeco Romawi, maka di sana bahasa pengetahuan terdiri atas bagian besar yang bersifat Graeco Romawi.
6. Bahasa-bahasa Barat inilah yang menjadi perantara mengembangkan pengetahuan di sebagian besar dunia sekarang.
7. Oleh sebab itu sudah ada satu kosakata yang hampir internasional berisi kata-kata pengetahuan. Kata-kata itu pada masa ini terdapat di dalam hampir segala bahasa yang di dalamnya ada bahasa pengetahuan.
8. Membentuk bahasa pengetahuan di dalam bahasa Indonesia dilakukan dengan mengambil kosakata internasional tadi.
9. Mengambil kata-kata itu mesti dilakukan dengan memperhatikan aturan-aturan bunyi kata-kata Indonesia.
10. Di dalam melakukan hal ini mesti juga diperhatikan dengan susunan kalimat asing masuk ke dalam bahasa Indonesia.

Mr. Muh. Yamin:

Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa kebudayaan

1. Pengetahuan Bahasa

Membicarakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa kebudayaan barulah berhasil jikalau diperhatikan kedudukan bahasa Indonesia dalam seluruh masyarakat dahulu dan sekarang, tentang tempatnya pada hari yang akan datang dan tentang artinya bagi bangsa Indonesia dan bagi pengetahuan umum.

Kedudukan tempat dan arti bahasa Indonesia hanyalah dapat diketahui dengan sedalam-dalam dan sebetul-betulnya jikalau diketahui secara pengetahuan: keadaannya sekarang dan perhubungannya dengan segala bahasa yang masuk rumpun Austria dan pengaruh bahasa lain atasnya.

Oleh karena bahasa Indonesia yang sekarang ini seperti segala bahasa di atas dunia menjalani kecerdasan sejarah, maka pengetahuan bahasa seperti yang dilazimkan sekarang, sekali-sekali belumlah cukup, jikalau pengetahuan tentang sejarah bahasa itu tidak diketahui.

Pengetahuan tentang duduk letaknya bahasa Indonesia pada waktu sekarang dan tentang sejarahnya pada ketika dahulu adalah memberi pandangan yang bersih dan menyediakan perbekalan bagi orang yang hendak menarik garis yang akan ditempuh oleh bahasa itu pada hari yang akan datang.

Oleh sebab itulah maka kedudukan bahasa Indonesia pada hari yang akan datang terserah kepada si pandai bahasa, si tahu bahasa, kemauan masyarakat, dan kemenangan politik.

2. Bahasa Persatuan Indonesia

Pemeriksaan kecerdasan bahasa Indonesia menunjukkan perhubungan sejarah antara tiga zaman: Pertama, zaman bahasa Indonesia lama (purbakala sampai tahun kira-kira 1500) yang dinamai juga oleh Kern, Krom, Brandes: Oud Maleisch; oleh Ronkel, Wilkinson, Winstedt: Old Malay; oleh Perraud, Coedes: vieux malais. Kedua, zaman Indonesia baru, yaitu bahasa Indonesia yang sekarang ini.

Kembangnya bahasa Indonesia tidak dimulai oleh pengaruh Kompeni Eropa atau oleh naiknya kekuasaan Melayu di Semenanjung, melainkan sudah sebelum itu; dengan umumnya bahasa Indonesia sejak dari zaman lama dan zaman pertengahan sampai zaman baru, sudah menjadi bahasa pertemuan atau bahasa persamaan antara penduduk Austronesia.

Oleh keinsyafan akan persatuan Indonesia sebagai teras kebangsaan Indonesia, maka bahasa Indonesia pertengahan sebagai bahasa persamaan atau bahasa pertemuan menjadilah bahasa persatuan. Sebab-sebab yang mendorong di atas bolehlah didapat dalam lingkungan sejarah lama dan purbakala dalam perhubungan bahasa Indonesia dengan bahasa-bahasa Austria dan segala bahasa yang berpengaruh atasnya.

3. Bahasa Kebudayaan Indonesia

Sejarah dan kecerdasan masyarakat menunjukkan bahwa bahasa Indonesia ialah bahasa budaya: sebagai bahasa persamaan, pertemuan, dan persatuan Indonesia, sebagai perkakas rohani dalam beberapa daerah dan bagi anak Indonesia; dan dengan lahirnya kebudayaan Indonesia, maka bahasa Indonesia telah berhubung dengan kebudayaan baru itu.

Perhubungan ini dan tempat bahasa Indonesia dalam lingkungan kebudayaan Indonesia haruslah mendapat tempat yang selarasnya dan yang setuju dengan cita-cita bangsa yang memiliki kebudayaan.

Pengakuan dan kesadaran seperti yang tersebut di atas barulah dapat berjalan dengan baik jikalau disandarkan kepada pengetahuan bahasa, sejarah, jiwa, dan masyarakat.

Pengakuan dan kesadaran yang tersebut di atas menjadi kemestian dan kewajiban memperluas kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa persamaan dan persatuan di Austronesia serta begitu juga sebagai bahasa kebudayaan bangsa Indonesia dalam dunia perguruan, pendidikan, kesusastraan, ilmu pengetahuan, segala agama dan gereja.

Kebudayaan Indonesia baik yang umum ataupun yang sedaerah, memilih antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah walaupun bahasa lain yang antara bukan bahasa Austronesia tidak sedikit pengaruhnya tetapi ke luar dan ke dalam, kebudayaan Indonesia membatasi segala bahasa lain itu.

Pengetahuan dan kesadaran bangsa Indonesia menguatkan pendirian bahwa bahasa Indonesia mendapat tempat yang semestinya sebagai bahasa pertemuan, persatuan kebudayaan Indonesia, dan sebagai bahasa negara.

Soekardjo Wirjopranoto:

Bahasa Indonesia dalam badan perwakilan

I Bangsa Indonesia akan musnah, jika anak negerinya tidak lagi mempergunakan bahasanya, yaitu bahasa Indonesia. Sebaliknya: salah satu syarat untuk meninggikan derajat bangsa dan nusa ialah memperkokoh bahasa Indonesia.
II Karena pertempuran kebudayaan antara Timur dan Barat, pertempuran yang menimbulkan “mixed culture” (kebudayaan campuran), maka di beberapa tempat dan pada beberapa saat bahasa Indonesia terdesak oleh bahasa Belanda. Desakan itu lama-kelamaan menjadi “common fact” (keadaan biasa) dan akhirnya bisa memundurkan bahasa Indonesia. Karena itu harus diatur dengan rapi, sehingga pertempuran tadi mengadakan buah yang bermanfaat, sekurang-kurangnya yang tidak mendesak kepada kita.
III Salah satu mimbar tempat pertempuran antara Timur dan Barat ialah badan-badan perwakilan yang dibangunkan oleh pemerintah Belanda, seperti volksraad, provinciale raad, gemeenteraad, regentschapsraad, groepsgemeenschap, dan sebagainya). Sebagai pohon yang asalnya dari tanah dingin dan tertanam di bumi matahari, maka bocahnya sudah tentu mempunyai warna dan rasa yang spesial.
IV Bangsa Timur yang mengambil bagian dalam badan-badan perwakilan tersebut harus insyaf kepada hari kemudian, bilamana pekerjaan mengatur rumah tangga—baik sentral maupun lokal—jatuh kepada anak negeri yang bahasanya tidak lain tidak bukan ialah bahasa Indonesia.
V Maka dari sebab itu terbitlah pertanyaan:

  1. Apa bahasa Indonesia mudah dipakai dalam badan-badan perwakilan Barat?
  2. Apa rumah tangga Barat yang mengandung soal Barat dan kecakapan Barat, mudah tercapai dengan bahasa Indonesia?
VI Kita menjawab:

  1. Badan-badan perwakilan lambat laut menjadi milik “common good” dari penduduk negeri, dari intelegensia sampai marhaen, dengan tidak memandang bangsa dan warna.
  2. Soal rumah tangga yang diatur dalam badan-badan perwakilan tersebut ialah menjadi “common interest” (kepentingan umum) yang tidak mengandung soal Barat belaka atau Timur belaka.
  3. Kecakapan Barat sebagai alat untuk mengatur rumah tangga ialah kecakapan “universal” (umum), jadi kita bisa meniru dan membarui.
  4. Kecerdikan untuk meniru dan membarui segera tercapai jika budi dan bahasa bersalaman, baik di dalam maupun di luar gedung-gedung badan perwakilan.
VII Culture exchange” (pertukaran kebudayaan) tidak berarti “culture slavery” (kebudakan dalam kebudayaan).

S. Takdir Alisjahbana:

Pembaharuan bahasa dan usaha mengaturnya

I Pembaharuan bahasa yang terdapat dalam perubahan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia terutama sekali ialah perubahan cara berpikir dan sikap hidup bangsa Indonesia yang dipengaruhi dan mempengaruhi perubahan dalam masyarakat Indonesia.
II Oleh karena bahasa ialah alat kebudayaan yang terpenting dan oleh karena berpikir cara modern bersandar pada bahasa, maka kebudayaan Indonesia yang baru hanya mungkin tumbuh dengan baik apabila bangsa Indonesia seumumnya atau sekurang-kurangnya yang menjadi pemuka dalam segala lapangan kebudayaan Indonesia, paham betul akan bahasa Indonesia.
III Kekacauan yang terdapat dalam bahasa Indonesia sekarang ini hanya mungkin lenyap apabila sebagian yang terbesar dari orang yang memakainya sudah pernah mempelajarinya.
IV Untuk mendapatkan jumlah yang sebesar-besarnya orang yang sudah mempelajari bahasa Indonesia yang bukan saja penting artinya untuk melenyapkan kekacauan bahasa, tetapi sangat penting juga untuk menyuburkan tumbuhnya kebudayaan Indonesia yang baru (lihat dalil 2), maka hendaknya bahasa Indonesia diajarkan pada segala sekolah dari yang rendah sampai yang tinggi.
V Ucapan “bahasa Melayu sekolah” terang menyatakan bahwa pelajaran bahasa di sekolah sangat jauh terpisah dari masyarakat sebab sekolah mestinya mendidik untuk masyarakat, bukan untuk dirinya sendiri.
VI Ukuran gramatika di sekolah harus diubah, sebab gramatika Melayu Riau tidak sesuai lagi dengan cara berpikir zaman sekarang. Lebih luas dan lanjut dapat ditiadakan (lihat dalil 10), maka untuk memperoleh ukuran yang dapat dipakai di masa ini, hendaklah dikumpulkan dengan teliti sejumlah karangan dari zaman ini, yang banyak dibaca di seluruh kepulauan ini dan yang ditulis oleh orang yang masak tentang pikiran modern serta paham pula akan bahasa Indonesia. Dari karangan-karangan itu disalin suatu rancangan gramatika modern, yang dapat dijadikan ukuran pengajaran bahasa Indonesia.
VII Sebab di beberapa bagian kepulauan kita ini bahasa Indonesia itu harus diajarkan sebagai bahasa asing di sisi bahasa daerah, maka untuk memudahkan pengajaran bahasa Indonesia itu hendaklah selekas-lekasnya diadakan penyelidikan tentang kata-kata dan pertalian kata yang tetap (collocaties) untuk mendapat dasar pengajaran bahasa yang rasional.
VIII Untuk kepentingan tumbuh bahasa Indonesia sebagai alat kebudayaan, untuk kepentingan pengajaran, dan untuk kepentingan mereka yang memakai bahasa Indonesia perlu sekali selekas-lekasnya diadakan kamus bahasa Indonesia yang lengkap memuat kata-kata yang dipakai di segala lapangan kebudayaan bangsa Indonesia dan yang menerangkan arti serta cara memakai kata-kata itu.
IX Sekolah Tinggi Kesusastraan sangat perlu, sebab hanya kalau Sekolah Tinggi Kesusastraan sudah ada barulah penyelidikan, pengajaran, dan penjagaan bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan memuaskan.

St. Pamoentjak:

Dalil-dalil tentang hal ejaan bahasa Indonesia

I Tidak ada persatuan tentang ejaan, apabila tidak ada pula persatuan tentang bahasa yang dituturkan.
II Sudah ada bahasa pergaulan yang sopan di Indonesia dan sudah lama ada persatuan tentang bahasa itu, sehingga sudah ada pula dasar untuk peraturan tentang ejaan.
III Ejaan adalah susunan tanda-tanda yang sudah sepakat umum mengakunya, untuk menggambarkan bunyi bahasa yang dituturkan, tidak peduli bagaimana rupa dan bangun tanda-tanda itu, asal ada sistem (aturan yang tetap tentang susunan tanda-tanda itu).
IV Tidak ada sistem ejaan yang dapat menggambarkan tiap-tiap bunyi yang ada kedengaran dalam bahasa yang dituturkan dengan sempurna-sempurnanya; sistem yang demikian tidak praktis dan tidak ekonomis.
V Sedangkan memperbaiki ejaan yang sudah berurat-berakar itu di masyarakat, dengan maksud dengan mendekatkannya pada bunyi bahasa yang dituturkan, lagi mendatangkan perjuangan yang hebat, mneghabiskan tenaga dan waktu apalagi mengubah sistem (aturan) ejaan. (Perjuangan ejaan De Vries-Te Wingkel dengan ejaan Kollewijn).
VI Tidak ada hasil yang menguntungkan, apabila sistem ejaan yang sudah berurat-berakar di masyarakat diubah apalagi jika perubahan itu hanya berarti menukar tanda-tanda saja: bahkan sebaliknya yang akan terjadi. Sebab itu sia-sia sekali perbuatan yang mengikhtiarkan perubahan sistem ejaan lebih-lebih lagi perubahan yang hanya berarti menukar tanda-tanda saja yang sudah hampir empat puluh tahun terpakai dan tersiar, serta meresap ke dalam masyarakat, dengan bahasa persatuan itu sendiri.
VII Ejaan yang diapakai sekarang telah memenuhi keperluan dengan secukupnya; memang masih ada juga hal-hal yang berkecil-kecil yang dapat diperbaiki dengan tidak usah medatangkan kegemparan. Tetapi walaupun demikian orang harus berlaku hati-hati benar mengubah itu, apalagi bahasa persatuan Indonesia masih terlalu muda umurnya.

Sanoesi Pane:

Instituut Bahasa Indonesia

I Bahasa Indonesia ialah bahasa Austronesia dan dekat sekali kepada bahasa Austronesia yang lain-lain itu. Bahasa Indonesia tumbuh dnegan cara yang sewajarnya sebagai bahasa perhubungan dan kebudayaan umum di Indonesia. Dalam bahasa itu orang Indonesia merasa jiwanya tetap padat dan dengan bahasa itu ia sanggup mewujudkan dirinya.
II Dengan makin tersebarnya kebudayaan Indonesia bahasa Indonesia pun makin berkembang dan makin berkembangnya bahasa Indonesia kebudayaan Indonesia pun makin tersebar.
III Kebudayaan dan bagiannya: bahasa tumbuh dengan sendirinya antara orang banyak dan dengan pimpinan. Orang tidak boleh membiarkan kebudayaan dan bagiannya: bahasa tumbuh begitu saja antara orang banyak dan tidak boleh pula memberi pimpinan dengan cara paksaan.
IV Untuk mengadakan penyelidikan tentang bahasa Indonesia dan untuk memberi pimpinan kepada tumbuhnya perlu suatu Instituut bahasa Indonesia. Instituut itu harus mengadakan kongres-kongres bahasa Indonesia, menerbitkan majalah yang berisi hasil penyelidikan dan usul tentang bahasa Indonesia, memberi nasihat kepada pihak yang meminta, dan lain-lainnya.
V Salah satu jalan untuk menyebarkan kebudayaan dan bagiannya; bahasa Indonesia ialah memberi tempat yang layak bagi bahasa Indonesia dalam perguruan. Bahasa daerah harus dipakai bermula sebagai bahasa perantaraan, tetapi bahasa itu harus makin lama makin diganti oleh bahasa Indonesia. Bahasa Belanda cuma diperlakukan sebagai leervak dan diajarkan selambat mungkin.
VI Berhubung dengan yang tersebut tentang bahasa Indonesia dalam perguruan itu terasa perlunya suatu badan untuk mendidik guru bahasa Indonesia pada sekolah Mulo, AMS, dan Kweekschool. Badan itu layak didirikan oleh Instituut Bahada Indonesia yang dimaksud dan Permusyawarahan Perguruan Indonesia.
VII Pada badan itu harus diajarkan sekurang-kurangnya:

  1. Bahasa Indonesia kesusastraan Melayu dan kesusastraan Indonesia.
  2. Ilmu membanding-bandingkan bahasa Austronesia.
  3. Bahasa dan kesusastraan Batak.
  4. Bahasa dan kesusastraan Jawa Kuna.
  5. Bahasa dan kesusastraan Jawa Baru.
  6. Bahasa dan kesusastraan Sunda.
  7. Kesusastraan dunia dengan mementingkan kesusastraan India, Arab, dan Persia.
  8. Sejarah Indonesia.
  9. Sosiologi.
  10. Etnologi (di dalamnya masuk hukum adat).
  11. Hukum Islam.

M. Tabrani:

Mencepatkan penyebaran bahasa Indonesia

1. Bahasa Indonesia bukan lawan bahasa daerah.
2. Gerakan bahasa Indonesia bukan gerakan merombak tetapi gerakan menyusun perwujudan dari sumpah kita:

  1. Kita bertumpah tanah satu, yaitu bangsa Indonesia
  2. Kita berbangsa satu, yaitu bangsa Indonesia
  3. Kita berbahasa satu, yaitu bahasa Indonesia.
3. Sepanjang paham kita, bahasa Indonesia sudah ada. Ia sekadar menunggu perbaikan, baik yang bertalian dengan ejaannya maupun yang berkenaan dengan gramatikalnya.
4. Kewajiban Kongres Bahasa Indonesia ialah menciptakan berdirinya Instituut Bahasa Indonesia yang akan memikul kewajiban untuk memudahkan dan mempercepat datangnya perbaikan tadi (lihat pasal 3).
5. Usaha yang dapat dan harus dilakukan Instituut Bahasa Indonesia antara lain ialah:mendesak pada pemerintah dan bagiannya supaya:

  1. Pada sekolah-sekolah rendah, menengah, tinggi, dan vak dipelajarkan bahasa Indonesia.
  2. Dalam badan-badan perwakilan dari R.R. sehingga Volksraad harus dipakai bahasa Indonesia (regel) dan bahasa Belanda (uitzondering)
  3. Pada departemen-departemen dan bagian-bagiannya supaya lebih banyak dipakai bahasa Indonesia dalam surat-menyurat
  4. Yang dapat diterima sebagai pegawai negeri di sini hanya mereka yang sedikit banyak paham bahasa Indonesia tidak peduli di bagian personil rendahan, menengah, dan tinggi dan tiada peduli mereka bukan anak pribumi.
6. Di samping itu (lihat pasal 5) Instituut Bahasa Indonesia harus bekerja bersama-sama dengan lain-lain organisasi dan mewujudkan:

  1. Perpustakaan dalam bahasa Indonesia, baik yang bersifat wetenschappenlijk, maupun yang berupa penghibur hati, dan sebagainya
  2. Supaya harga buku atau brosur itu murah seharusnya diusahakan sebuah Drukkerij Nasional yang modern, lengkap, dan cukup untuk memenuhi kewajiban selaku drukkerij yang mencetak buku, brosur, dll. Keperluan yang bertalian dengan usaha mempercepat penyiaran bahasa Indonesia. Guna ini perlu diadakan pembicaraan di antara pengurus drukkerij-drukkerij Indonesia yang sudah atau yang akan diadakan
  3. Pada perguruan-perguruan partikelir baik yang berdasarkan agama maupun tidak, bahasa Indonesia itu harus dipelajarkan dan di mana dapat dipakai sebagai bahasa pengantar (voertaal)
  4. Dalam pergaulan sehari-hari baik di rumah antara suami-istri, anak-orang tua maupun di luarnya hendaklah dipakai bahasa Indonesia sebagai bahasa alat bertukar pikiran, bercakap-cakap
  5. Semua pergerakan baik politik dan agama, maupun sosial dan ekonomi, dsb, harus berdiri di belakang gerakan bahasa Indonesia.

Putusan Kongres Bahasa Indonesia

I Sesudah mendengarkan dan memperkatakan praeadvies Tuan Mr. Amir Sjarifoeddin tentang “Menyesuaikan kata dan paham asing ke dalam bahasa Indonesia”, maka Kongres ternyata pada umumnya setuju mengambil kata-kata asing untuk ilmu pengetahuan. Untuk ilmu pengetahuan yang sekarang, Kongres setuju kalau kata-kata itu diambil dari perbendaharaan umum. Pekerjaan itu hendaklah dijalankan dengan hati-hati, karena itu perkara itu patutlah diserahkan kepada satu badan.
II Sesudah mendengarkan dan bertukar pikiran tentang praeadvies Tuan St. Takdir Alisjahbana hal “Pembaharuan bahasa dan usaha mengaturnya”, maka sepanjang pendapatan Kongres, sudah ada pembaharuan bahasa yang timbul karena ada cara berpikir yang baru, sebab itu merasa perlu mengatur pembaharuan bahasa itu.
III Sesudah mendengar praeadvies Tuan-tuan St. Takdir Alisjahbana dalil VI dan Mr. Muh. Yamin, maka Kongres berpendapat bahwa gramatika yang sekarang tidak memuaskan lagi dan tidak menurut wujud bahasa Indonesia, karena itu perlu menyusun gramatika baru, yang menurut wujud bahasa Indonesia.

Motie

IV Orang dari berbagai-bagai golongan dari berbagai-bagai daerah, berkongres di Solo pada tanggal 25—27 Juni 1938, setelah mendengarkan praeadviesTuan K. St. Pamoentjak tentang “Hal ejaan bahasa Indonesia”, dan setelah bertukar pikiran tentang hal itu, maka yang hadir berpendapatan:bahwa ejaan baru tidak perlu diadakan, sampai Kongres mengadakan ejaan sendiri,bahwa ejaan yang sudah berlaku, yaitu ejaan van Ophuijsen untuk sementara boleh diterima,

tetapi karena mengingat kehematan dan kesederhanaan, perlu dipikirkan perubahan seperti yang disebutkan oleh praeadviseur,

karena itu berpengharapan:

  1. Supaya orang Indonesia selalu memakai ejaan yang tersebut
  2. Supaya fraksi nasional di Volksraad mendesak pemerintah untuk memakai ejaan seperti yang dimaksudkan oleh Kongres
  3. Supaya perhimpunan kaum guru suka membantu putusan Kongres
V Setelah mendengar praeadviesTuan Adi Negoro, tentang “Bahasa Indonesia di dalam persuratkabaran”, maka sepanjang pendapatan Kongres, sudah waktunya kaum wartawan berdaya upaya mencari jalan-jalan untuk memperbaiki bahasa di dalam persuratkabaran,Karena itu berharap supaya Perdi bermufakat tentang hal itu dengan anggota-anggotanya dan komisi yang akan dibentuk oleh Bestuur Kongres yang baru bersama-sama dengan Hofdbestuur Perdi.
VI Sesudah mendengarkan praeadvies Ki Hajar Dewantara dalil X yang disokong oleh Tuan R.M. Ng.dr. Poerbatjaraka, maka Kongres berpendapatan dan menganjurkan supaya di dalam perguruan menengah diajarkan juga ejaan internasional.
VII Sesudah mendengarkan praeadvies Tuan Soekardjo Wirjopranoto tentang “Bahasa Indonesia dalam badan perwakilan”, yang diucapkan dan dipertahankan oleh Tuan R.P. Soeroso, maka Kongres berpendapatan dan mengeluarkan pengharapan: pertama: supaya mulai saat ini bahasa Indonesia dipakai dalam segala badan perwakilan sebagai bahasa perantaraan (voertaal), kedua: mengeluarkan pengharapan supaya menunjang usaha untuk menjadikan bahasa Indonesia bahasa yang sah dan bahasa untuk undang-undang negeri.
VIII Sesudah mendengar praeadviesTuan Sanoesi Pane tentang “Instituut Bahasa Indonesia” dan mendengar pendirian Komite tentang hal itu:maka Kongres Bahasa Indonesia memutuskan:supaya diangkat suatu komisi untuk memeriksa persoalan mendirikan suatu Instituut Bahasa Indonesia dan Kongres berharap supaya mengumumkan pendapatan komisi tentang soal yang tersebut.
IX Sesudah mendengarkan praeadvies Tuan-tuan St. Takdir Alisjahbana, Mr. Muh. Yamin, dan Sanoesi Pane, maka Kongres berpendapatan, bahwa untuk kemajuan masyarakat Indonesia, penyelidikan bahasa dan kesusastraan dan kemajuan kebudayaan bangsa Indonesia, perlu didirikan Perguruan Tinggi Kesusastraan dengan selekas-lekasnya.

Komite Kongres Bahasa Indonesia

Ketua Kehormatan Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat
Ketua Dr. Poerbatjaraka
Wakil Ketua Mr. Amir Sjarifoeddin
Penulis Soemanang

Armijn Pane

Katja Soengkana

Bendahari Soegiarti, Mr.

Nj. Santoso-Maria Ulfah

 

Sumber :

Kridalaksana, Harimurti. (ed). 1991. Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s